MAKALAH ULUMUL QURAN

MAKALAH
ULUMUL QURAN
Dosen: Dr.(Chand) Munakib.





Disusun oleh kelompok 2 :
Siti Sholihat ( KPI )
Firyali Sausan Nadiroh ( ESY )



INSTITUT UMMUL QURO AL-ISLAMI
BOGOR 2020

KATA PENGANTAR
Bismillahirohmanirrohim

Alhamdulilah segala puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT atas berkah rahmat dan karunia-Nya yang tak terhingga-hingga sampai hari ini penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Ulumul Qur’an.
Dalam penyusunan tugas ini penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menyajikan tugas ini dengan sebaik-baiknya. Namun penulis juga menyadari bahwa tugas ini belum mencapai suatu tingkatan kesempurnaan karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki, Untuk itu saran dan kritik yang konstruktif penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan tugas ini.
Penulis menyadari benar bahwa tugas ini tidak mungkin dapat terwujud tanpa rahmat dan karunia-Nya, serta bantuan dan dorongan dari berbagai pihak yang telah memberikan bantuan maupun dukungannya, baik berupa moril maupun meteril. Secara khusus ucapan terima kasih ini kepada dosen pengampu : Dr. (cand) Munakib.
Pada akhirnya penulis berharap semoga tugas ini dapat  bermanfaat bagi semua pihak yang membaca pada umumnya, dan bagi para guru sebagai pendidik dan rekan mahasiswa dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan agama dalam memahami pengumpulan dan Penertiban Al-qur’an. Akhirnya, penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyusun  tugas ini.



Bogor, 22 Maret 2020


Penulis


DAFTAR ISI
BAB I ........................................................................................................................... 4
Pendahuluan ................................................................................................................. 4
1.1  Latar Belakang ...................................................................................................... 4
1.2  Rumusan Masalah .................................................................................................. 4
BAB II .......................................................................................................................... 5
Pembahasan ................................................................................................................... 5
2.1  pengertian pengumpulan Al-qur’an ....................................................................... 5
2.2  pengumpulan Al-qur’an pada masa Nabi ............................................................... 5
2.3  pengumpulan Al-qur’an pada masa Abu Bakar ...................................................... 7
2.4  pengumpulan Al-qur’an pada masa Utsman ........................................................... 8
2.5  penertiban Al-qur’an .............................................................................................. 11
2.6  penertiban ayat ....................................................................................................... 11
2.7  penertiban surat ...................................................................................................... 11
BAB III ......................................................................................................................... 13
Penutup .......................................................................................................................... 13
3.1  Kesimpulan ..............................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................14









BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-qur’an dapat disimpulkan lafadz berbahasa arab yang diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mu’jizat yang diwahyukan kepadanya melalui prantara malaikat jibril, pada zaman Nabi Muhammad SAW ayat Al-qu’an tidak di bukukan seperti ssaat ini, melainkan ditulis pada pelapah kurma, batu tipis, tulang dan sebagainya, bahkan banyak pula yang menghafalnya.
 Al-qur’an merupakan pedoman umat islam yang berisi petunjuk dan tuntunan untuk untuk mengatur kehidupan di dunia dan akhirat, Al-qur’an merupakan kitab suci yang unik, yang mana susunanya maupun kandungan maknanya merupakan kata-kata yang indah dan menyentuh hati bagi manusia yang  memahaminyaserta tidak ada satu mahkluk pun yang dapat membuatnya.
Pengumpulan dan penyusunan Al-qur’an dalam bentuk seperti saat ini, terjadi bukan hanya dalam satu masa, akan tetapi berlangsung selama beberapa tahun atas upaya beberapa orang dan kelompok.

B. Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah sehingga terbentuknya makalah, yakni :
1. Apa yang dimaksud penulisan dan pengumpulan Al-qur’an ?
2. Seperti apakah pengumpulan Al-qur’an pada masa Nabi ?
3. Seperti apakah pengumpulan Al-qur’an setelah Nabi ?
4. Apa penertiban Al-qur’an itu ?
5. Apa penertiban ayat dalam Al-qur’an ?
6. Apa penertiban surat dalam Al-qur’an ?




BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengumpulan Al-qur’an
1) Pengertian pengumpulan Al-qur’an
Ada dua pengertian pengumpulan Al-qur’an menurut para ulama,
Pertama : pengumpulan dalam arti hafadzhahu
Kedua : pengumpulan dalam arti kitabuhu kulihi baik dengan memisah-misahkan ayat-ayat dan surat-suratnya, atau menertibkan ayat-ayatnya semata dan setiap surat ditulis dalam satu lembaran yang terpisah.
2) Pengumpulan Al-qur’an pada masa Nabi
a) Pengumpulan Al-qur’an dalam konteks hafalan pada masa Nabi
Dalam kitab sohihnya, Al-Bukhari telah mengemukakan tentang tujuh penghafal Al-qur’an dengan tiga riwayat, mereka adalah Abdillah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qil Maulana Abi Hudzaifah, Muadz bin Jabal, Ubay bun Ka’ab, Zaid bin Tsabit, dan Abu Ad-Darda.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “ambilah Al-qur’an dari empat orang sahabatku ; Abdullah bin Mas’ud, salim, muadz, dan ubay bin ka’ab.” Kempat orang tersebut dua orang dari muhajirin dan dua orang dari Anshar.
Diriwayatkan dari qatadah, ia berkata. “ aku bertanya kepada Annas bin Malik, siapakah orang yang mengumpulkan Al-qur’an di masa Rasulullah SAW ?.” dia menjawab “ Empat orang dan semuanya dari kaum Anahar, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid.” Aku bertanya lagi “ Abu Zaid itu siapa ?” salah seorang pamanku” jabawnya.
Dan diriwayatkan pula melalui Tsabit, dari Annas katanya. “Rasulullah SAW wafat sedang Al-qur’an belum dihafal kecuali oleh empat orang, Abud Darda, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid.”
         Penyebutan para penghafal yang berjumlah tujuh atau delapan orang, tidak berarti pembatasan, karena beberapa keterangan dala kitabsejarah dan sunah, menunjukkan bahwa para sahabat berlomba menghafalkan Al-qur’an dan mereka memrintahkan anak daan istri mereka untuk menghafalkanya.
Pembatasan tujuh orang sebagaimana disebutkan Al-Bukhari dengan tiga riwayat, maksudnya, mereka itulah yang hafal seluruh isi Al-qur’an diluar kepala, dan selalu menunjukkan hafalanya di depan Nabi, isnad-isnadnya sampai kepada kita. Sedangkan para penghafal lainya yang berjumlah banyak, tidak memenuhi hal-hal tersebut.
Pemahaman dan takwil para ulama terhadap hadits-hadits shahih yang menunjukkan pembatasan jumlah para penghafal Al-qur’an yaitu hanya tujuh orang. Dalam mengomentari riwayat Anas yang menyatakan “ taka da yang hafal Al-qur’an kecuali empat orang,” Al Mawardi mengatakan, bahwa ucapan Ana situ tidak dapat diartikan apa adanya. Mungkin saja Anas tidak mengetahui ada orang lain yang menghafalnya. Al-Mawardi telah menghilangkan keraguan yang mengesankan sedikitnya jumlah para penghafal Al-qur’an dari kalangan sahabat.
Abu Ubaid menyebutkan dalam kitab Al-Qira’at sejumlah qori dari kalangan sahabat. Dari kaum muhajirin, dia menyebut nama empat orang khalifah, Thalhah, Sa’ad, Ibnu Mas’ud , Hudzaifah, Salim, Abu Hurairah, Abdullah As-Saib, empat orang Abdullah, Aisyah, Hafshah, dan Ummu Salmah. Adapun dari kalangan Anshar, Ubadah bin Ash-Shamit, Muadz yang dijuluki Abu Halimah, Majma bin Jariyah, Fudhalah bin Ubaid dan Maslamahbin Mukhallad. Ditegaskanya bahwa sebagian mereka itu menyempurnakan hafalanya sepeinggal Nabi.
b) Pengumpulan Al-qur’an dalam konteks penulisanya pada masa Nabi.
        Rasulullah SAW menegangkat para penulis wahyu Al-qur’an dari sahhabat-sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Bila ayat turun beliau memerintahkan mereka menuliskanya dan menunjukkan, dimana tempat ayat tersebut dalam surat, maka penulisan pada lembaran itu membantu penghafalan di dalam hati.
Sebagian sahabat juga menulis Al-qur’an atas inisiatif sendiri pada pelepah kurma, lempengan batu, papan tipis, kulit atau daun kayu, pelana dan potongan tulang berulang binatang.
Ini menunjuukan betapa besar kesulitan yang dipikul para sahabat dalam penulisan Al-qur’an. Alat-alat yang dapat digunakan tulis-menulis tidak cukup tersedia bagi mereka. Selain hanya sarana-sarana tersebut. Tetapi hikmahnya, penulisan Al-qur’an ini semakin menambah kuat hafalan mereka.
Malaikat Jibril membaca Al-qur’an kepada Rasulullah SAW pada malam-malam bulan Ramadhan setiap tahunya, Abdullah bin Abas berkata “ Rasulullah adalah orang yang paling pemurah, dari puncak kemurahanya pada bulan Ramadhan ketika beliau ditemui oleh Jibril. Beliau ditemuinya pada malam-malam bulan ramadhan , Jibril membacakan Al-qur’an kepadanya, dan ker]tika beliau ditemui Jibril,  beliau sangat lembut dan pemurah bagai hembusan angin.”
     Tulisan-tulisan Al-qur’an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf. Kiasanya yang ada ditangan seorang sahabat misalnya, belum tentu dimiliki oleh yang lain. Menurut para ulama, yang menghafal seluruh isi Al-qur’an ketika Rasulullah masih hidup adalah; Ali bin Abi Thalib, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, dan Abdullah bin mas’ud. Mereka juga menyebut zaid bin Tsabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Al-qur’an dihadapan Nabi.
Penulisan Al-qur’an setiap surat berada dalam satu lembaransecara terpisah dan dalam tujuh huruf, tetapi Al-qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh, sebab apabila wahyu turun segera dihafal oleh para quraa’ dan ditulis oleh para penulis. Dan pada saat itu belum ada tuntutan kondisi untuk membukukanya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunya wahyu dari waktu kewaktu.susunan penulisan Al-qur’an itu tidak tertib nurulnya, tetapi setiap ayat yng turun di tuliskan di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi.
3) Pengumpulan Alqur’an pada masa Abu Bakar
Abu bakar menjabat sebagai khalifah pertama dalam islam setelah wafat Rasulullah SAW, Abu Bakar dihadapkan kepada peristiwa besar berkenaan dengan murtadnya sejumlah orang arab, karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkanya untuk memerangi orang yang murtad itu, peperangan itu melibatkan sejumlah besar sahabat penghafal Al-qur’an. Dalam peperangan itu tujuh puluh qari’ dari para sahabat gugur. Umar bin Al-Khatab merasa sangat khawatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakardan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Al-qur’an karena di khawatirkan akan musnah, sebab peprangan tersebut telah banyak mengugurkan para qari’. Akan tetapi Abu Bakar menolakusulan ini dan keberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Namun Umar tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar agar menerima usulan Umar tersebut. Abu Bakar menceritakanya kepada Zaid bin Tsabit  tentang usulan Umar, pada mulanya Zaid menolak, keduanya lalu bertukar pendapat, samapai akhirnya Zaid dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan Al-qur’an itu. Lembaran Al-qur’an itu disimpan Abu Bakar. Setelah ia wafat lembaran-lembaran itu berpindah ketangan Umar dan tetap berada ditanganya hingga ia wafat. Kemudian mushaf itu berpindah kepada Hafshah, putri umar. Umar pernah meminta nya dari tanga Hafshah ketika pertamakali menduduki kursi khilafah.
Para ulama berpendapat bahwa penamaan Al-qur’an dengan mushaf itu baru muncul sejak saat itu, yaitu ketika Abu Bakar mengumpulkan Al-qur’an. kata Ali, “orang yang paling besar pahalanya berkenaan dengan mushaf ialah Abu Bakar. Dialah orang yang pertama mengumpulkan kitab Allah.” Pada periode Abu Bakar ini dinamakan pengumpulan Al-qur’an kedua.
4) Pengumpulan Al-qur’an pada masa Utsman
Setelah wilayah kekuasaan islam semakin luas, dan para quraa’ tersebar di berbagai wilayah penduduk disetiap wilayah itu biasanya mempelajari qira’at  ayat dari qari’ yang dikirim pada mereka.
Pembacaan Al-qur’an yang yang mereka bawakan berbeda-beda relevan dengan perbedaan huruf-huruf yang denganya Al-qur’aan diturunkan. Apabila mereka berkumpul di suatu pertemuan atau di medan peperangan, sebagian mereka merasa heran akan adanya perbedaan qira’at ini. Keadaan ini ternyata tidak dapat membendung adanya keraguan di di benak generasi baru yang tidak berjumpa Rasulullah, sehingga terjadilah pembicaraan tentang bacaan mana yang baku dan dan mana yang lebih baku, yang akan menimbulkan pertentangan bila terus tersiar.
Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan-bacaan baku pada satu huruf.
Utsamn kemudian mengirim utusan kepada Hafshah untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya, hafsah pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya. Kemudain Utsman menanggil Zaid bin Tsabit  Al-AAnshari, Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash,  dan Abdurrahman bin Al-Anshari bin Hisyam. Utsaman memerintahkan kepada mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang quraish hendaklah ditulis dalam bahasa quraish, karena Al-qur’an turun dalam dialek bahsa mereka.
Utsman mengembalikan lembaran-lembaran asli itu kepada Hafshah, kemudian Utsaman mengirimkan mushaf baru kesetiap wilayah dan memerintahkan agar semua mushaf lainya dibakar.
Suwaid bin Ghaflah berkata, “Ali mengatakan : katakanlah segala yang baik tentang Utsman. Demi Allah, apa yang telah dilakukanya mengenai mushaf-mushaf Al-qur’an sudah atas persetujuan kami. Utsman pernah berkata, “bagaimana pendapatmu?” ia menjawab, ‘aku berpendapat agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak lagi terjadi perpecahan dan perselisihan.’kami berkata, ‘pendapatmu sangat baik’.
Apa yang dilakukan Utsman telah disepakati oleh para sahabat. Mushaf-mushaf itu ditulis dengan satu huruf dari tujuh huruf Al-qur’an seperti yang diturunkan agar orang bersatu dalam satu qira’at. Utsman telah mengembalikan lembaran-lembaran yang asli kepada Hafshah. Lalu, ia kirimkan pula kesetiap wilayah masing-masing satu mushaf, dan ditahanya satu mushaf di Madinah, yaitu mushafnya sendiriyang kemudian dikenal dengan nama ‘Mushaf Imam’. Penamaanya sesuai dengan apa yang terdapat dalam riwayat terdahulu dimana dimana ia mengatakan “ bersatulah wahai sahabat-sahabat Muhammad dan tulislah untuk semua orang satu imam .” kemudian ia memrintahkan membakar semua bentuk mushaf yang selain itu. Umatpun merima perintah itu dengan patuh, sedang kan qira’at dengan enam huruf lainya ditinggalkan. Keputusan ini tidak salah.seandainya Rasulullah mewajibkan qira’at dengan tujuh huruf semua, tentu setiap huruf harus disampaikan secara mutawatir sehingga menjadi hujjah.
Sebagian orang yang dangkal ilmunya berkata “bagaimana mereka boleh meninggalkan qira’at yang telah dibacakan oleh Rasulullah dan diperintahkan pula membacanyadengan cara itu ?” maka jawabanya ialah “ Bahwa perintah Rasulullah SAW itu bukan suatu perintah wajib atau fardhu, tetapi hanya menunjukan kebolehan dan keringanan. Sebab andaikata kata qira’at dengan tujuh huruf itu diwajibkan kepada mereka, tentulah pengetahuan tentang setiap huruf dari ketujuh huruf itu wajib pula bagi orang yang mempunyai hujjah untuk menyampaikanya, beritanya pun harus pasti dan tidak boleh ada hal yang diragukan dibenak para penghafal umat itu. Maka ini merupakan bukti bahwa dalam masalah qira’at mereka boleh memilih.
5) Perbedaan antara pengumpulan Al-qur’an di masa Abu Bakar dan Utsamn.
Pada masa Abu Bakar
Karena kekhawatiran akan hilangnya Al-qur’an karena banyaknya para quraa’ yang gugur dalam peprangan.
Semua tulisan atau catatan Al-qur’an semula bertebaran di kulit binatang, tulang berulang, dan pelapah korma.
Pada masa Utsaman
Karena banyaknya perbedaan dalam cara membaca Al-qur’an yang terjadi diberbagai wilayah kekuasaan islam yang disaksikanya sendiri.
Menyalinya dalam satu huruf diantara ketujuh huruf itu
            Al-Harits Al-Muhasibi mengatakan, “yang masyhur dikalangan orang banyak ialah bahwa pengumpulan Al-qur’an itu adalah Utsman padahal sebenarnya tidak demikian, Utsam hanyalah berusaha menyatukan umat pada satu macam qira’at. Dengan usahanya Utsman telah berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dan mengikis sumber perselisihan serta menjaga Al-qur’an dari pertambahan dan penyimpangan sepanjang zaman.
     Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah mushaf yang dikirimkan Utsman keberbagai daerah :
a. Ibnu Abi Daud : Berjumlah tujuh buah mushaf, dikirimkan ke Mekkah, Syam, Bashrah, kufah, Yaman, Bahrain, dan Madinah.
b. Abu Amru Ad-Dani : berjumlah empat buah, dikirimkan ke Irak, Syam, Mesir, Kufah.
c. As-Suyuthi : jumlahnya ada lima mushaf.
Adapun lembaran yang dikembalikan kepada Hafshah, tetap berada di tanganya hingga ia wafat. Setelah itu lembaran-lembaran tersebut dimusnahkan, dan dikatakan pula bahwa lembaran-lembaran tersebut diambil oleh Marwan bin Al-Hakam lalu dibakar.
B. Penertiban Al-quran
1. Tertib Ayat
     Ayat adalah sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam suatu surat Al-qur’an. Penempatan secara tertib urutan ayat-ayat Al-qur’an ini bersifat tauqifi, berdasarkan ketentuan Rasulullah SAW.
Jibril menurunkan bebrapa ayat kepada Rasulullah dan menunjukkan kepadanya dimana ayat-ayat itu harus diletakkan dalam surat atau ayat-ayat yang turun sebelumnya.
Ketika pengumpulan Al-qur’an, Utsman selalu berada ditempat setiap kali suatu ayat atau surat akan diletakkan di dalam mushaf.
Terdapat sejumlah hadits yang menunjukkan keutamaan beberapa ayat dari surat-surat tertentu. Ini menunjukkan bahwa tertib ayat-ayat bersifat tauqifi. Sebab jika susunanya bisa diubah, tentulah ayat-ayat itu tidak akan didukung oleh hadits tersebut.
   Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW membaca sejumlah surat dengan tertib ayat-ayatnya dalam sholat atau khutbah jum’at.
Tertib ayat Al-qur’an seperti yang ada dalam mushaf yang beredar diantara kita adalah tauqifi, tanpa diragukan lagi.
2. Tertib Surat
      Surat adalah sejumlah ayat Al-qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan.
Para ulama berbeda pendapat tentang tertib surat-surat AAl-qur’an :
Ada yang berpendapat bahwa tertib surat itu tauqifi dan ditangani langsung oleh Nabi sebagaimana diberitahukan malaikat Jibril kepadanya atas perintah Allah. Al-qur’an pada masa Nabi telah tersusun surat-suratnya ssecara tertib sebagaimana tertib ayat-ayatnya, seperti yang ada ditangan kita sekarang ini, yaitu tertib mushaf Utsman yang tidak ada seorang sahabat pun menentangnya. Rasulullah telah membaca surat secara tertib didalam sholatnya.
Ibnu Hashshar mengatakan, “Tertib surat dan letak ayat-ayat pada tempatnya masing-masing itu berdasarkan wahyu. Rasulullah mengatakan  “Letakkan lah ayat ini di tempat ini.’ Hal ini telah diperkuat oleh riwayat yang mutawatirdengan tertib.
Kelompok kedua berpendapat bahwa tertib surat itu berdasarkan ijtihad para sahabat, sebab ada perbedaan tertib didalam mushaf-mushaf mereka.
o Mushaf Ali dimulai dengan iqra kemudian Al-Muddatstsir, Nun, Al-Qalam dan seterusnya.
o Mushaf Ibnu Mas’ud yang pertama ditulis adalah surat Al-Baqorah, kemudian An-Nisa , lalu Ali Imran dan seterusnya.
o Mushaf Ubay yang pertama ditulis adalah Al-Fatihah, Al-Baqorah, An-Nisaa dan seterusnya.
Kelompok ketiga berpendapat, sebagian surat itu tertibnya bersifat tauqifi dan sebagian lainya bersifat ijtihad para sahabat. Karena terdapat dalil yang menunjukkan tertib sebagian surat pada masa Nabi.
Apabila membicarakan ketiga pendapat ini, jelaslah bagi kita bahwa pendapat kedua yang menyatakan tertib surat-surat itu berdasarkan ijtihad para sahabat, tidak bersandar dan berdasar pada suatu dalil. Sebab, ijtihad sebagian sahabat mengenai tertib mushaf mereka yang khusus, merupakan ikhtiar mereka sebelum Al-qur’an dikumpulkan secara tertib.










BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
      Pengumpulan atau penertiban Al-qur’an pada masa Nabi itu secara hafadzhuhu (menghafalnya dalam hati) dan dalam arti kitabuhu kulihi yang artinya secara tertulis baik secara keseluruhan dan terpisah. Setelah Rasulullah SAW wafat kemudian diteruskan oleh Abu Bakar sebagai pengganti khalifah pertama setelah Rasulullah SAW, setelah Abu Bakar wafat mushaf Al-qur’an di berikan kepada Hafsah putrinya. Lalu khalifah digantikan oleh Utsman.
   Pengumpulan Al-qur’an yang dilakukan Abu Bakar adalah  disebabkan oleh kekhawatiran akan hilangnya sebagian Al-qur’an karena kematian para penghafalnya ketika di medan peperan, kemudian Umar mengusulkan kepada Abu Bakar untuk menuliskan mushaf Al-qur’an akan tetapi Abu Bakar menolaknya, usman terus membujuknya, hingga Allah membukan hati Abu Bakar untuk menulis mushaf Al-qur’an, lalu Abu Bakar memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk menuliskan mushaf Al-qur’an.
    Pengumpulan Al-qur’an yang dilakukan Utsman adalah disebabkan karena banyaknya perbedaan dalam cara membaca Al-qur’an yang terjadi di berbagai wilayah kekusaan islam. Utsman mengirim utusan kepada Hafshah untuk meminta mushaf milik Abu Bakar, lalu hafshah mengirimnya. Utsman memerintahkan kepada Zain bin Tsabit dan tiga orang Quraish untuk menuliskan ayat Al-qur’an dalam satu mushaf. Utsman mengirimkan kembali mushaf asli kepada hafshah dan mengirim mushaf lainya ke wilayah kekuasaan islam yang lainya.
Al-qur’an terdiri atas surat-surat dan ayat-ayat, baik yang pendek maupun yang panjang. Adapun ayat ialah sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam suatu surat. Sedangkan surat adalah sejumlah ayat Al-qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan.
Penertiban ayat dalam Al-qur’an bersifat tauqifi. Sedangkan penertiban surat dalam Al-quran ada bebrapa pendapat seperti bersifat tauqifi dan ijtihad.


DAFTAR PUSTAKA
Al qaththan Syaikh Manna.2006.Pengantar Study Ilmu Al-qur’an. Kairo: Maktabah Wahbah.
https://alkatibblog.wordpress.com/2015/09/18/pengumpulan-dan-penertiban-al-quran.
https://alquranmulia.wordpress.com/2014/01/06/pengumpulan-dan-penertiban-al-quran.


Komentar